’Pengetahuan’ Taklukkan Jantung Koroner
Artikel Rumah Sakit

Oleh:   Dr. Dasaad Mulijono, FRACGP, FRACP, PhD

Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke merupakan penyakit yang menakutkan. Kedua penyakit ini berisiko cacat permanen dan bahkan kematian. Di kota-kota besar, PJK menjadi penyebab utama kematian. Padahal seiring kemajuan dunia kedokteran seharusnya kedua penyakit tersebut dapat dicegah. Caranya dengan mengendalikan faktor risiko penyebabnya.

 

Medical Check Up (MCU)

Tren sebagian masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri (Singapura, Malaysia, Cina, Thailand, dan Australia) bukan pepesan kosong. Kondisi ini dikarenakan standar pelayanan kesehatan di luar negeri terbukti lebih baik. Ironisnya lagi, MCU pun dilakukan di luar negeri. Hal ini merupakan akibat dari sering gagalnya MCU di dalam negeri dalam mendeteksi gejala awal penyakit. Fatalnya lagi, jika kesalahan terjadi dalam menegakkan diagnosis dan atau penatalaksanakan pengobatan suatu penyakit. Oleh sebab itu, RS Medistra mempunyai komitmen untuk berusaha menciptakan mutu pelayanan yang setara dengan rumah sakit di luar negeri.

Dalam dunia kesehatan, sehat tak hanya ditentukan oleh usia yang relatif muda, tak merokok, berbadan langsing, kuat, dan aktif berolah raga. Penelitian menunjukkan, proses pembentuk­an plak pada pembuluh darah koroner jantung penyebab serangan jantung sudah berlangsung sejak usia dua tahun. Kadar kolesterol dalam darah dan faktor risiko lainnya termasuk genetik menjadi unsur pembentuk plak pada pembuluh darah koroner jantung. Kurus atau gemuknya tubuh tak dapat memastikan seseorang memiliki kadar kolesterol darah yang baik atau tinggi. Hanya MCU yang dapat mengukur kadar kolesterol seseorang. Faktor genetik, yaitu adanya keluarga sedarah yang terkena serangan jantung pada usia kurang dari 50 tahun. Faktor risiko ini tidak dapat diubah dan patut diwaspadai.

Banyak faktor risiko lainnya yang terbukti dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan stroke. Di antaranya intoleransi gula darah, kelainan fibrinogen, aggregasi trombosit yang meningkat, kenaikan asam urat, kenaikan Lp(a), apo B, homosistein, hs-CRP, dan penurunan Apo A.

Sehingga semakin lengkapnya pemeriksaan laboratorium saat MCU, semakin dapat mendeteksi faktor risiko dari penyakit jantung koroner dan stroke. Pengendalian faktor risiko sedini mung­kin merupakan program pencegahan dengan kemung­kinan tingkat keberhasil­an yang tinggi.  

Sekilas Info:

Tahukah Anda, tak semua pemeriksaan jantung dapat mendeteksi adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner jantung secara akurat dan terjamin.

Pemeriksaan CT Scan Jantung.

Fasilitas CT Scan jantung dapat menunjukkan adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner seseorang. Pemeriksaan ini bersifat non-invasif hanya memerlukan suntikan zat kontras dan berlangsung dalam hitungan menit. Risiko dari pemeriksaan ini hampir dapat diabaikan dan pasien pun dapat langsung pulang setelah tindakan. Hasil CT Scan jantung cukup akurat dengan toleransi kesalahan ±10%-15 % --bergantung pada kapabilitas dan pengalaman dari operator dan dokter ahli yang menginterpretasikan hasil yang diperoleh. Bandingkan dengan pemeriksaan treadmill jantung dengan toleransi kesalahan ± 50%. Karenanya, pada setiap MCU, dokter wajib menjelaskan pemeriksaan apa yang paling tepat dan akurat buat pasiennya.

Pemeriksaan Kateterisasi Jantung

Saat ini, kateterisasi merupakan gold standard. Teknik ini merupakan teknik yang terbaik/ terakurat yang diakui dunia untuk mendeteksi adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner secara benar dan pasti.

Keakuratan/ ketepatan kateterisasi jantung hampir mencapai 100%. Letak dan banyaknya sumbatan, serta prosentase sumbatan dapat diukur secara pasti. Pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui pergelangan tangan (arteri radialis) atau melalui lipatan siku (arteri brakialis) dengan anestesi lokal. Pemeriksaan ini membutuhkan waktu ± 10-15 menit. Seorang dokter ahli jantung intervensi, dapat memutuskan langkah lebih lanjut untuk pasiennya setelah menge­tahui hasil dari kateterisasi.

Risiko Kateterisasi Jantung

Dengan semakin meningkatnya teknologi kedokteran, khususnya di bidang subspesialis jantung-intervensi, tindakan kateterisasi dapat dianggap tidak berisiko. 

Tahukah Anda?

Penanganan yang terbaik untuk mengatasi serangan jantung koroner (heart attack) dengan tindakan Primary PCI

Akibat serangan jantung koroner (heart-attack), seorang pasien mungkin saja dapat meninggal sebelum tiba di rumah  sakit. Namun, kemungkinan pasien dapat diselamatkan jika pasien dapat segera (as soon as possible/ ASAP) tiba di rumah sakit dengan fasilitas laboratorium kateterisasi (Cathlab). Fasilitas ini berguna agar dokter dapat melakukan tindakan balonisasi dan pemasangan stent. Tindak­an ini disebut sebagai Primary Percutaneous Coronary Intervention (Primary PCI).

Risiko kematian dari sel-sel otot jantung dapat mengakibatkan pompa jantung menjadi lemah bahkan berakibat fatal. Ingat tak semua rumah sakit walaupun memiliki Cathlab dan dokter ahli jantung-intervensi- dapat melakukan tindakan Primary PCI. Hal ini dikarenakan dokternya tidak stand-by dan siap dipanggil di luar jam kerja (on call).

Pasien yang mengalami serangan jantung koroner perlu segera menjalani tindakan angiografi koroner. Setelah peng­ambilan gambar video pembuluh darah koroner, dokter dapat mengetahui pembuluh darah koroner yang menjadi penyebab serangan tersebut. Kemudian segera dokter melakukan tindakan intervensi dengan cara menyedot gumpalan darah yang terbentuk, diteruskan dengan melebarkan pembuluh darah yang tersumbat de­ngan menggunakan balon dan diakhiri dengan pemasangan cincin (stent).

Dengan terbukanya pembuluh darah, aliran darah ke otot jantung kembali lancar sehingga nyawa pasien dapat diselamatkan atau cacat otot jantung dapat ditekan seminimal mungkin. Tindakan primary PCI menurunkan angka kematian dan angka kesakitan pasien jika dibandingkan dengan pemberian obat khusus yang disebut trombolitik.

Waktu adalah sangat berharga dalam hal ini. Door to needle time. Artinya, waktu dari pasien tiba di rumah sakit hingga tindakan dapat dilakukan sebaik­nya tidak melebihi 1-2 jam.   

 
The contents of this webpage are copyright � 2007-2008 Medistra Hospital. All rights reserved.