Mengenal DES (Drug-Eluting Stent) Print

Oleh : Prof. Dr. dr. T. Santoso, MD, Sp.PD, KKV,Sp.JP, FACC, FESC

Para Penderita Jantung Koroner (PJK) kini dapat tersenyum lega setelah diperkenalkan teknologi terbaru, Drug-Eluting Stent (DES), suatu prosedur intervensi ke jantung dengan pemasangan stent bersalut obat. Hanya perlu satu hari perawatan, tanpa bius total, tak menimbulkan rasa sakit, dan nyaris tak berefek samping merupakan keunggulan teknologi ini.

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit jantung yang disebabkan penyempitan pembuluh darah jantung yang lebih lazim disebut arteri koronaria. Dalam hal ini arteri koronaria yang memberi suplai darah ke otot jantung menyempit atau mengeras akibat kerak (plak), sehingga aliran darah ke jantung menjadi berkurang.

Faktor risiko PJK antara lain meliputi; kadar kolestrol total atau LDL tinggi, kadar kolesterol HDL rendah, tekanan darah tinggi, merokok, diabetes, kegemukan, kurang berolahraga, keturunan, umur, dan stres.

Pada mulanya gejala PJK, berupa nyeri dada di bagian tengah menjalar ke lengan kiri, dan leher) pada waktu melakukan aktivitas, nyeri seperti ditekan (berat dan panas), dan nyeri berlangsung beberapa menit dan hilang saat istirahat. Bentuk seperti ini dinamakan angina stabil. Bila kondisi lebih berat, maka nyeri dada lebih sering, lebih lama, lebih berat atau interval lebih sering. Kondisi seperti ini dinamakan angina tak stabil dan merupakan suatu kondisi sebelum serangan jantung. Pada serangan jantung akut (yang juga dinamakan infark jantung akut) nyeri amat hebat, lama bisa sampai 15 - 30 menit atau lebih, menetap bahkan pada saat istirahat dan dapat disertai berbagai komplikasi termasuk gagal jantung, penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung termasuk kematian. Harus disadari kadang2 PJK dapat pula tidak memberi gejala sama sekali dan tiba-tiba penderita mengalami serangan jantung atau meninggal mendadak. 

Salah satu pengobatan PJK yang amat bermanfaat adalah intervensi koroner perkutan atau ”Percutaneous Coronary Intervention (PCI)”. Pada PCI digunakan kateter dan melalui kateter dimasukkan berbagai alat untuk melakukan rekayasa plak yang menyebabkan penyempitan tersebut supaya terbuka dan normal kembali. Alat yang dipakai termasuk balon, stent, atau alat2 lain, seperti alat bor, alat pengerokan pembuluh darah, filter dan lain lain. Dibandingkan operasi bypass, keunggulan PCI adalah tidak diperlukannya persiapan khusus, tidak diperlukan pembiusan total, tidak diperlukan penggergajian rongga dada (sayatan hanya 1-2 mm), umumnya hanya perlu satu hari perawatan, tak menimbulkan rasa sakit, masa perawatan hanya sehari, tidak diperlukan tindakan rehabilitasi, penderita dapat langsung melakukan kegiatan dan olah raga setelah pulang dan nyaris tak berefek samping merupakan keunggulan teknologi ini.

 

Apa Itu Stent?

Pada umumnya untuk mendapatkan hasil PCI yang baik dan dapat dinikmati jangka panjang diperlukan pemasangan stent. Stent ini bermanfaat untuk menyanggah liang koroner agar tidak mudah menyempit kembali (restenosis) setelah dilebarkan dengan balon. Tanpa stent sekitar 30-40% pasien mengalami kekambuhan kembali akibat restenosis. Kata ‘stent’ sendiri berasal dari nama dokter gigi asal Inggris bernama Charles T. Stent (1807-1885) yang menggunakan alat penyangga khusus untuk meratakan gigi.

 

Proses pengiriman dan pemasangan stent jantung ini sebenarnya sederhana. Stent yang menempel pada balon di ujung kateter diarahkan ke lokasi penyempitan. Pada saat balon dikembangkan, stent pun ikut mengembang lalu menempel di dinding dalam pembuluh koroner. Balon kemudian dikempiskan dan ditarik kembali dengan meninggalkan stent dalam koroner. Untuk memasang stent pada posisi yang tepat, diperlukan panduan sinar tembus (fluoroscopy) dengan alat angiografi.

 

Stent terbuat dari baja antikarat dan tersedia dalam berbagai ukuran. Diameter mulai dari 2,25mm hingga 4mm. Sedangkan panjangnya dapat mencapai 33mm. Pemilihan ukuran stent ini ditentukan dokter berdasar diameter koroner dan panjang penyempitannya.

 

Pada masa kini terdapat paten lebih dari 100 jenis stent yang diproduksi berbagai perusahaan, masing-masing dengan desain, ukuran diameter, panjang, serta karakteristik fisiknya. Model stent mirip spiral atau seperti sangkar.

 

Penyempurnaan PTCA dengan DES

 

Akhir-akhir ini para Penderita Jantung Koroner (PJK) dapat tersenyum lebih lega lagi setelah diperkenalkan penggunaan Drug-Eluting Stent (DES), yaitu stent bersalut obat.

 

DES itu sendiri, jelas Prof. DR. Dr. T Santoso S., SpPD, KKV, FACC, FECS, merupakan penyempurnaan PCI. Dengan DES, restenosis (penyempitan kembali) akibat munculnya kerak baru pada pembuluh darah koroner dapat mencapai 0 hingga 5 %. Selain itu hasil yang dicapai dengan pemasangan DES pun dapat dinikmati pasien dalam waktu lama.

 

Rendahnya angka restenosis, salah satunya, dikarenakan obat yang terdapat pada stent. Terdapat banyak macam DES dengan berbagai jenis obat yang dipakai seperti misalnya sirolimus, biolimus, everolimus, paclitaxel dll.

 

Uniknya lagi, penggunaan DES dapat digunakan pada segala jenis kondisi klinis termasuk yang amat kompleks sekalipun; seperti misalnya penderita diabetes, infark jantung akut, penderita buntu total pembuluh koroner, penderita dengan kelainan pada banyak pembuluh koroner, sampai penderita amat tua (80 atau 90 tahun), pasca operasi by-pass yang mengalami kegagalan atau menyempit kembali atau penderita yang sama sekali sudah tidak menjalani operasi bypass pada pembuluh koroner. Metode DES juga cocok untuk penderita pasca PCI yang pembuluh koronernya menyempit kembali.

 

***( Prof. DR. Dr. T Santoso S., SpPD, KKV, FACC, FECS dalam makalahnya Mengenal Teknik Modern Dalam Pengobatan Penyakit Jantung Koroner: Kateterisasi dan Tindakan Pelebaran Kembali Penyempitan Pembuluh Darah Jantung pada seminar awam ‘Healthy Heart’ di Hotel Four Seasons, Jakarta, Sabtu (16/4/05).

Dari berbagai sumber)     

 

 
The contents of this webpage are copyright � 2007-2008 Medistra Hospital. All rights reserved.