Perinatalogi / Neonatal ICU Print

Banyak rumah-sakit yang mengklaim telah memiliki NICU, namun sesungguhnya belum memenuhi standar. Angka kematian dan kejadian neonatal di negara-negara berkembang hingga saat ini masih tinggi. Meski demikian, unit-unit dan layanan kesehatan, belum bisa berbuat banyak yang disebabkan upaya yang dilakukan selalu terganjal banyak kendala. Antara lain belum tersedianya infrastruktur dan peralatan yang memadai serta minimnya tenaga medis dengan latar belakang pendidikan khusus Neonatal Intensive Care Unit (NICU).  

Penanganan pasien neonatal pada dasarnya tidak bisa disamakan atau disatukan dengan pasien dengan keluhan dan penyakit lain. Untuk neonatal, pasien harus mendapatkan penanganan dan perlakuan ekstra khusus. Sebab risiko kematiannya sangat tinggi. Meski demikian, beberapa rumah-sakit tetap melakukan perawatan terhadap pasien neo natal, dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan. Akibatnya, penanganan yang dilakukan tidak maksimal. Inilah yang menyebabkan angka kematian pasien neonatus tetap tinggi.

Idealnya, penanganan kasus neonatal harus dilakukan dalam ruang perawatan khusus yang terdiri dari tiga level, berdasarkan derajat kesakitan, risiko masalah dan kebutuhan pengawasannya. Level pertama adalah untuk bayi risiko rendah, dengan kata lain bayi normal yang sering digunakan istilah rawat gabung ( perawatan bersama ibu) atau Level II untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu intensif.  Pada level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam,  akan tetapi perbandingan perawat dan bayi tidak perlu 1-1. Sedangkan pada level  III, pengawasan yang dilakukan benar-benar ekstra ketat. Satu orang perawat yang bertugas hanya boleh menangani satu pasien selama 24 jam penuh. Pada ketiga level peran dokter boleh dibagi, artinya 1 orang dokter pada ketiga level, akan tetapi dengan ketrampilan dan pengetahuan khusus mengenai masalah gawat darurat pada neonatus.

 

 

Sesuai dengan namanya, perawatan intensif harus dilakukan secara khusus oleh seorang perawat terus menerus selama 24 jam. Tapi kalau perawatan dilakukan terhadap beberapa pasien, itu namanya bukan intensif. Tujuannya, agar kita bisa merawat bayi-bayi risiko tinggi secara baik dan benar. Sehingga bayi yang sakit itu jangan sampai meninggal. Setelah dirawat, dia harus sembuh. Dan sembuhnya itu juga bukan sekedar sembuh, tapi kalau bisa sembuh tanpa cacat,” tegas Kepala Unit Neonatal Rumah Sakit Medistra, Dr. Eric Gultom Sp.A.

Selain pengawasan oleh dokter dan perawat secara intensif, dukungan peralatan juga sangat membantu kesembuhan pasien. Sebab perubahan klinis pasien neonatal sangat cepat, sehingga membutuhkan peralatan bantuan monitor, mesin  dan peralatan penunjang lain  yang cukup mahal. Sebagai rumah-sakit yang ingin memberikan pelayanan maksimal pada pasien, RS Medistra telah memiliki layanan khusus untuk pasien NICU. Meski belum sempurna, tapi layanan yang diberikan sangat bisa diandalkan. Hal itu terlihat dari tingkat keberhasilan yang dicapai dalam penanganan pasien neo natal dengan bobot di atas 1.500 ons, tingkat keberhasilannya di atas 90%. “Mungkin ini yang sudah cukup disadari oleh Presdir, sehingga ketika saya mengajukan pembelian ventilator High Frequency Oscillator (HFO), beliau mendukung. “Yang lain boleh mengatakan punya NICU. Tapi belum tentu mereka berani menerapkan sistem satu perawat untuk satu pasien. Kalau di sini, aturannya sudah baku. Semua jajaran sudah setuju. Kalau sampai ada seorang perawat harus menangani lebih dari satu pasien, lebih baik enggak usah merawat. Kirim aja ke tempat lain,” tegas dr Eric yang pernah mengambil pendidikan khusus NICU di negeri kanguru.

      
                                        Kamar Delivery VIP                                         Kamar Tindakan 

 

Dengan tingginya tingkat keberhasilan dalam penanganan pasien neonatal itu, beberapa rumah-sakit dan klinik bersalin yang ada di Jakarta, menjadikan NICU RS Medistra sebagai rujukan mereka.  

“Beberapa rumah-sakit dan klinik bersalin di Jakarta bahkan menjadikan RS Medistra sebagai rujukan, jika mereka mendapati kasus bayi prematur. Jumlahnya memang tidak banyak, sekitar 30 %. Tapi itu cukup membuktikan, pelayanan yang kita berikan bisa diandalkan dan diakui dokter-dokter dari rumah sakit lain.

Meski menerima pasien rujukan dari rumah sakit atau klinik bersalin lain, tapi kapasitas ruang perawatan dan pelayanan NICU di RS Medistra sangat terbatas. Sehingga tak jarang pasien rujukan itu disarankan untuk mencari pelayanan di rumah sakit lain. Apalagi, harus diakui, biaya rawat pasien-pasien NICU memang masih dirasakan terlalu tinggi untuk sebagian kalangan masyarakat.  

“Bukannya menolak pasien, tapi memang fasilitas NICU kita, saat ini hanya bisa menampung dua pasien. Itu pun kita prioritaskan bagi pasien yang memang sejak awal konsultasi di klinik kita,” jelas dr Eric lagi.

Meski pelayanan yang diberikan dapat diandalkan, dr Eric merasa apa yang dilakukan belum sesuai dengan harapannya. “Kalau ditanya cita-cita dan keinginan untuk memiliki unit NICU yang bisa menampung dan menolong lebih banyak pasien. Tapi semua itu terbentur pada terbatasnya SDM, peralatan dan dukungan finansial. Jadi, pelan-pelan lah….” ungkapnya. 

Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia, terutama tenaga perawat, RS Medistra menyelengarakan sendiri kursus internal bagi perawat yang ingin mendalami NICU.

“Mungkin dalam program jangka panjang, kami bercita-cita ingin menjadi pelopor dalam pelayanan NICU sesuai dengan standar textbook. Untuk masalah SDM, setelah kebutuhan internal terpenuhi, bukan tidak mungkin kita akan membuka kursus bagi dokter atau perawat yang ingin mendalami NICU. Kalau kita bisa berikan kursus di sini, manfaat yang didapat banyak sekali. Selain biayanya murah, tidak usah dikirim ke luar negeri, mudah-mudahan peluang hidup pasien neonatal yang ada di Indonesia bisa lebih baik,” harap dr Eric.  

Meski keinginannya untuk dapat mewujudkan Unit NICU sesuai standar sangat kuat, tapi ada hal lain yang menurut dr Eric dapat dengan mudah dilakukan. Hal itu adalah memberikan informasi dan pengetahuan pada calon ibu untuk menjaga dan merawat kehamilannya dengan benar. “Apa pun namanya, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati,” tambahnya.
 
The contents of this webpage are copyright � 2007-2008 Medistra Hospital. All rights reserved.